Tan Malaka, 19 Februari 1949

Hari ini kucoba kembali membuka tumpukan-tumpukan lama didalam hard disk kecilku, dan kutemukan sebuah file yang sangat lama dan hampir tidak pernah kubuka lagi. Ini adalah salah satu bentuk representitatif era globalisasi yang makin menggila. Membuka buku dengan EYD lama tanpa kutu buku dan debu. Fuih…!!! Dengan radang tenggorakan yang sangat membuatku kesal, kucoba membaca kembali buku “Dari Pendjara Ke Pendjara” karya Tan Malaka.

Dari Pendjara ke Pendjara

Mari kita merenung sejenak detik-detik kematian Tan Malaka…

Setelah Tan Malaka lepas dari penjara pada September 1948 dan kepulangan Muso dari Moskow terjadi bentrokan yang kesekian kalinya di Madiun antara tentara Indonesia dengan PKI. Dan akhirnya klaim pertama kali dari presiden Soekarno akan kudeta PKI dikeluarkan. Dimulailah pengejaran terhadap anggota PKI oleh tentara.

Pada hari Ulang Tahun Revolusi Russia yaitu tanggal 7 November 1948, Tan Malaka berserta beberapa kawannya mendirikan Partai Murba yang membawahi lebih dari 80.000 anggota. Dimana Partai Murba ini menginginkan pembentukan Negara Sosialis Indonesia pada saat itu (Helen Jarvis, “Tan Malaka: Revolutionary or renegade?” Bulletin of Concerned Asian Scholars, 1987).

Para pemuda di Partai Murba melakukan perang gerilya terhadap tentara Belanda dengan membentuk 35 satuan perang gerilya di Jawa Timur. Dan penyerangan dilakukan oleh tentara Belanda pada 19 Desember 1948. Diakhiri dengan larinya para pasukan dibawah Tan Malaka ke gunung untuk melakukan perlawanan secara gerilya. Disisi lain Soekarno – Hatta sedang melakukan negoisasi politik dengan pihak Belanda dan mengklaim gerakan yang dilakukan oleh Tan Malaka dengan pasukannya adalah gerakan pemberontakan, bukan gerakan kemerdekaan. Dimana perlawanan yang dilakukan oleh para pemuda Partai Murba itu adalah perlawanan terhadap tertara Belanda.

Sebuah permintaan pun turun dari pemerintah Belanda untuk membungkam para pemuda partai Murba dibawah pimpinan Tan Malaka. Dan penyerangan yang tak terduga pun dilakukan oleh tentara Indonesia atas dasar sebuah maneuver politik Soekarno – Hatta. Dan penangkapan Tan Malaka pada saat itu tidak membawanya kembali ke penjara karena penembakan atas dirinya pun dilakukan di salah satu belantara hutan di Jawa Timur pada tanggal 19 Februari 1949.

Selama hidupnya Tan Malaka selalu melakukan perlawanan terhadap para penguasa dan kolinial Belanda. Dengan mementahkan segala bentuk negoisasi yang dilakukan oleh para kelas mapan demi kepentingan modal. Baginya sederhana,”Belanda tidak berhak atas apapun atas negeri ini”. Tetapi idealisme ini sangat bertentangan dengan Soekarno – Hatta. Apakah ini bentuk karakter bangsa Indonesia yang sesungguhnya? Penjilat akan modal…
Tidak heran kondisi negara ini akan selalu carut marut…

Dhani
yang mencoba memperingati 58 tahun kematian Tan Malaka seorang diri.

tan-malaka-01.jpgtan-malaka-02.JPG

Advertisement

~ by Viza Ramadhani on February 19, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.